wartamerdeka.com

Jum 01 08 2014

Last update04:25:26 AM GMT

Kita Berada di: Warta Nasional 1 Hukum Polres Enrekang Dinilai Lamban Usut Kasus Pembunuhan Paweddai
Keliru
  • JFolder::create: Could not create directory

Polres Enrekang Dinilai Lamban Usut Kasus Pembunuhan Paweddai

  • PDF

JAKARTA (wartamerdeka.com) – Warga Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Tengah mendesak pihak kepolisian agar secepatnya mengusut tuntas kasus pembunuhan sadis di Desa Tuncang Kecamatan Maiwa Enrekang, yang menewaskan Paweddai alias Puang Pawe pada 13 Oktober 2012 lalu. Warga menilai kepolisian sangat lamban mengusut kasus pembunuhan yang telah telah enam bulan itu, padahal banyak saksi yang dengan jelas menyebut jelas siapa terduga tersangka pelaku pembunuhan.



“Polisi terkesan sangat lamban menangani kasus pembunuhan ini, padahal menurut sejumlah warga kasus ini sebenarnya sangat terang benderang. Sehingga banyak warga mempertanyakan lambatnya kinerja kepolisian,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya yang mengungkap masalah ke ini ke redaksi wartamerdeka.com, tadi pagi.

Seperti diketahui, Paweddai dibunuh secara sadis dan brutal dengan cara ditikam, di antara perbataan desa Tapong dan desa Tuncung,  kurang lebih 500 meter dekat jembatan Tellang. Ada  20 luka tikaman di tubuh korban, 11 luka di bagian belakang  dan 9 tusukan di bagian depan. Setelah dibunuh, mayat korban lalu ditaruh di pinggir jalan, sebelum akhirnya ditemukan warga.

Warga setempat menduga pembunuhan ini dilatarbelakangi masalah sengketa tanah. Karena sebelumnya korban diketahui pernah terlibat sengketa tanah dengan seorang warga setempat bernama Ilyas.

Malah sebelum peristiwa pembunuhan terjadi, korban sempat pamit kepada istrinya hendak menemui Laudung dan Sumahari, berkaitan dengan sengketa tanah itu.

Adik korban, bernama Risang, juga mengakui,  sebelumnya didirnya juga sempat bertemu Laundung yang membawa surat panggilan dari kades korban.  Laundung menyampaikan kepada Risang bahwa isi surat itu menyatakan bahwa korban dipangil kades untuk membicarakan lahan yang disengketakan antara korban dengan Ilyas, Laundung, Sumahari.

Menurut kesaksian warga, ketika korban dalam perjalanan menuju rumah kepala desa untuk membicarakan masalah sengketa tanah itu, lewa di lapangan volley desa Cempa. Saat itu Majid dan Anca sedang main volley. Begitu lewat Paweddai, mereka berhenti main volley. Mereka ambil motor lalu mengikuti korban ke Marwanging. Di perjalanan ada pos ronda. Disitu ada Tamsir. Akhirnya mereka bertiga berboncengan mengikuti korban. Esoknya warga dibuat geger dengan penemuan tubuh korban yang telah terbujur menjadi mayat dengan 20 luka tikaman.

 

Atas lambatnya penanganan oleh polisi terhadap kasus pembunuhan itu, sekitar 50 Mahasiswa asal Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Massenreng Pulu berdemonstrasi di Polda Sulselbar, Selasa (30/4/2013) lalu.

Mereka mendesak pihak Polda agar segera mengungkap kasus pembunuhan yang menewaskan Paweddai tersebut.

Salah seorang pimppinan aksi Mahasiswa Enrekang tersebut, Havids mengatakan, pembunuhan di Kabupaten Enrekang yang menewaskan Puang Pawe terjadi 6 bulan lalu tidak menunjukkan citra yang baik kinerja Polisi khsusnya Polres Enrekang sebagai penegak hukum karena hingga saat ini pelakunya belum terungkap.

Mahasiswa asal Kabupaten Enrekang mengatakan, jika Polda Sulselbar tidak mampu mengungkap pelaku pembunuhan di Desa Tuncang tersebut, makan Mahasiswa Massenreng Pulu akan mengadu ke Kompolnas untuk ditindak lanjuti.

Sementara kepala Bindang Humas Polda Sulselbar Komisaris Besar Polisi Endi Sutendi yang menerima aspirasi Mahasiswa Kabupaten Enrekang mengatakan, penyidik Polres Enrekang belum memiliki bukti yang cukup untuk mengungkap pelaku Pembunuhan Paweddai. Tetapi, tambahnya, peristiwa itu akan menjadi perhatian Polda Sulselbar karena menyangkut nyawa orang sehingga Direskrim Polda akan membantu Polres Enrekang menangani kasus tersebut.(AR)

Keterangan Gambar: Sejumlah mahasiswa asal Enrekang berdemo mendesak Polda Sulsel tuntaskan kasus pembunuhan Paweddai yang terjadi di Enrekang enam bulan lalu.

DISQUS MENYIAPKAN RUBRIK KOMENTAR INI